Ramadan itu selalu identik sama kebersamaan. Dari sahur yang kadang masih ngantuk, sampai momen buka puasa yang paling ditunggu. Rasanya simpel, tapi hangat. Apalagi kalau bareng keluarga atau teman.
Cuma ya, makin ke sini, ada hal yang kadang bikin mikir juga. Kok suasananya jadi agak beda ya? Apa kita yang makin dewasa atau keadaan yang berubah begitu cepat?
Nggak bisa dipungkiri, sekarang buka puasa sering jadi ajang kumpul yang “niat banget”. Pilih tempat harus yang bagus, harus pesan tempat dulu, makanan harus kelihatan mewah, belum lagi outfit dan barang yang dipakai.
Sebenarnya nggak salah. Tapi kadang, ada yang sampai maksa. Biar nggak kalah dari teman, biar tetap terlihat oke. Ujung-ujungnya jadi bukan soal buka puasanya, tapi soal gimana kelihatan di mata orang lain.
Dari nyewa ponsel yang bagus, sampai minjam kereta punya teman. Semuanya dilakukan agar tidak kalah dengan yang lain.
Padahal kalau diingat lagi, Rasulullah ngajarin buka puasa itu sederhana banget. Kurma, air, makanan yang manis, lalu bersyukur. Sesimpel itu.
Justru dari yang sederhana itu, rasanya lebih kena. Nggak ribet, nggak banyak tuntutan. Yang pasti senang, apalagi bertemu dengan orang-orang yang kita kenal.
Kalau kebiasaan "harus terlihat lebih" terus dibawa, lama-lama diri sendiri cape juga. Bisa bikin iri, ngebanding diri, bahkan jadi beban keuangan tanpa kita sadar. Karena mengeluarkan uang yang tidak penting, hanya demi kelihatan wah.
Yang harusnya jadi momen santai malah jadi tekanan. Dan anehnya, ini sering di anggap normal bagi sebagian orang.
Pada akhirnya balik lagi ke diri sendiri. Mau ikut arus, atau tetap pegang makna sebenarnya dari Ramadan.
Karena jujur aja, momen yang paling enak itu biasanya yang nggak dibuat-buat. Sederhana, tapi terasa. Nggak perlu kelihatan wah, yang penting nyaman dan bareng orang yang tepat.
Penulis: Fahmi, Juna Arianta Ginting